perjalanan Tidak banyak yang tahu tentang fungsi gumuk sebagai pemecah angin, sebagai resapan air, filter air, dan fungsi-fungsi yang lain, mereka hanya tahu manfaat dari gumuk atau fungsi sebagai penambah penghasilan kebutuhan, begitupun menurut Mulyadi atau Sura’i
PERJALANAN
Sore itu
sekitar pukul 15.00 kami berempat memasuki desaAntirogo, tempat yang akan kami tuju. Terlihat gundukan-gundukan kecil seperti bukit terhampar di tengah tanaman padi
yang bergerak karena tiupan angin, di atas gundukan terdapat bermacam-macam pohon
yang mengitarinya. Mata kami tertuju pada satu gundukan yang terlihat lebih besar
diantara gundukan lainnya, kamipun berhenti.
Jalanan kecil yang hanya cukup untuk berjalan satu orang saja tidak memungkinkan
untuk membawa motor kami. Dan kami menitipkan motor kepada seorang
wanita yang sedang duduk termenung di depan rumahnya, kami melanjutkan perjalanan dengan
berjalan kaki. Langkah kaki
terus menyusuri
jalan yang berada ditengahsawah, untung
hari itu tidak hujan sehingga jalanan yang kami lewati tidak licin, dan kami mudah untuk melewatinya.
Suara gemiricik
air yang bersumber
dari gundukan begitu tenangnya mengairi sawah, diiringi dengan suara
jangkrik yang bersahutan menyambut kedatangan kami. Udara yang sejuk, batuan yang menempel pada
gundukan, tanaman-tanaman yang menyebar luas
seperti pohon kelapa, pohon sengon, dan bamboo memancing rasa penasaran kami untuk terus
melanjutkan perjalanan. Kami bertemu dengan seorang
laki-laki setengah baya yang mengenakan setelan baju
putih lengan panjang dengan celana
coklat yang terlihat lebih besar
dari ukurannya. Dia sedang membersihkan
kotoran yang menutupi tanamannya,
kami mencoba
menyapa dan bertanya- tanya.
Bahasa Madura dan logatnya yang kental, begitu saja keluar dari mulutnya membuat dahi kami berkerut mencoba untuk
memahami bahasanya, tak ada satupun
dari kami yang bias berbicara bahasa Madura. Alhasil kami hanya bias mengetahui
gundukan tersebut bernama (Gumuk Kedu),
dan dia
adalah pemilik seperempat dari keseluruhan gumuk yang sudah diwariskan kepadaanaknya, dan dia juga memberitahukan tempat tinggal
anaknya. Kami berputar balik melanjutkan
perjalanan untuk mencari keterangan kepada pemilik gumuk yang lain.
Di tengah perjalanan
kami berpapasan dengan Mulyadi (29 tahun), dia termasuk salah satu dari pemilik gumuk kedu yang didapatnya dari warisan
turun temurun. Melihat banyaknya gumuk yang sudah mengalami pengrusakan dan ekploitasi, mulyadi sebagai salah satu pemilik
gumuk sama sekali tidak terpikir untuk menjual gumuk ataupun mengeruk isi dari kandungan gumuk yang berupa pasir,
tanah, dan
batu. Dia lebih memilih menjaga, merawat, dan memanfaatkan gumuk miliknya dengan menanami berbagai macam kayu lalu menjualnya. Sehingga dia bias
mendapatkan penghasilan tanpa harus merusak gumuknya. Alasan lain yang membuatnya tidak
ingin menjual gumuk miliknya dikarenakan gumuk
itu adalah warisan dan juga di pucuk gumuk terdapat
makam orang terdahulu. “di atas sana
ada makam buyut saya, jadi saya tidak berani untuk menjualnya.” ujarnya.
Setelah
dirasa cukup kami melanjutkan perjalan lagi
menuju rumah Sura’i anak dari lelaki setengah baya yang sempat kami
temui. Tidak
jauh berbeda dari mulyadi, ia juga mendapatkan gumuk dari warisan turun-temurun, ia juga memanfaatkan
gumuk miliknya dengan menanami pohon ataupun kayu yang nantinya akan dijual
untuk menambah pengahsilannya. Tetapi ketika kami bertanya “apakah ada pikiran akan menjual gumuk milik bapak?”dengan senyum di kedua bibirnya dia
menjawab “ saya masih belum
tahu, kalau butuh ya mungkin dijual,” jawabnya. Tidak banyak
yang tahu
tentang fungsi gumuk sebagai pemecah angin, sebagai resapan
air, filter air,
dan fungsi-fungsi yang lain, mereka hanya
tahu manfaat dari gumuk atau fungsi sebagai penambah penghasilan kebutuhan, begitupun menurut Mulyadi
atau Sura’i. Proses penyelamatan gumuk akan menjadi semakin sulit kalau masyarakatnya ataupun pemilik gumuk sendiri belum
paham sepenuhnya akan fungsi atau manfaat gumuk.(vivi dkk)
Komentar
Posting Komentar